Sabtu, 09 Februari 2019


Menyusuri Poros Singgah Mata, Aceh Tengah
4 Mei 2017   10:00 Diperbarui: 4 Mei 2017   10:00 916 0 9

Februari 2008. Dari Bireun, mestinya kami memutar ke jalur Pidie atau Saree untuk kembali ke kota Banda Aceh. Namun, kami mengubah rencana. Zulfikar yang menyertai kami, dengan mantap mengiyakan saat kami mengajak melewati jalur Takengon atau melintasi perbukitan dan hutan lebat Aceh Tengah. Bukan soal jalur baru ini yang buat kami sempat deg-degan tetap waktu keberangkatan kami seusai shalat subuh di Takengon.

Sebelumnya, kami menghabiskan waktu di Takengon. Kami mengunjungi pasar ikan dan sudut-sudut kota itu. Sebelum beranjak mencari penginapan kami mencari buah-buahan di Pasar Bawah dan mengamati beberapa bangunan khas peninggalan Belanda.

Kota dingin bersuhu 16 hingga 25 derajat itu, tertata apik. Beberapa bangunan tua dengan arsitektur lama masih bertahan.  Dulu, kawasan ini disebut salah satu daerah kunci ekonomi Aceh, itulah sebabnya para meneer Belanda sangat menyayangi kota ini. Di zaman kolonial, jalur Bireun - Takengon ini disebut salah satu yang paling sibuk. Gajah adalah salah satu moda transportasi bahkan Gubernur VOC di Aceh pada saat itu beberapa kali melakukan perjalanan dengan mobilnya, lengkap dengan serdadu. Dari Takengon, kopi Gayo merambah Eropa.Saya terkenang beberapa foto antik dari kawasan ini dipamerkan di gedung Arsip di Banda Aceh, tentang gajah, kumis tebal yang gubernur, hingga para serdadu yang menenteng senjata.

Takengon juga terkenal karena ikan khasnya yang kami jumpai di salah satu pasar sentral Takengon. Berjejer, kecil di antara ikan-ikan laut, ikan kerapu, kakap, dan ikan tambak seperti bandeng, nila dan ikan karang lainnya.  Setelah puas mengelilingi pasar, kawan saya yang asal benua Kanguru mengajak memangkas rambut di salah satu sudut kota. Tepat di jalan menanjak sebelum berbelok ke kanan menuju jalur kanan danau.

"Seriously?"kataku. "Yeah, why? Come on,"ucapnya riang.

Di saat duduk mematung di atas kursi pangkas itulah, aroma kopi bubuk giling menyeruak di ruangan pangkas dan membuat kami hanya bisa saling memandang dan melenguh. Duh, enaknya.   "Itu dia pak. Daya tarik Aceh Tengah adalah kopi!"celetuk Zulfikar.

****

Bertiga, kami bergerak ke daerah ketinggian di sisi danau. Warga Takengon yang kami tanyai, menyodorkan nama hotel Renggali. Letaknya di bagian timur danau. Tenang dan jauh dari pemukiman warga. Untuk menjangkaunya kami mesti melewati jembatan di tepi kota, jembatan yang di sekitarnya dijejali keramba ikan. Kamar kami dilengkapi jendela kaca yang lebar, dimana kami bisa menatap kecipak air danau yang menjilati batang pohon pinus tua. Membiarkan gerai jendela tetap tergulung, melihat wanita-wanita yang membilas cucian dan beberapa pemancing ikan terayun di atas sampan kecilnya. Dari titik ini juga terlihat liukan jalan masuk ke Takengon bagai ular dari arah utara.

Hotel Renggali sangat strategis, asri dan antik. Tak perlu onkan ac karena suhu sudah sekitar malam itu tidak sampai 25 derajat. Nampaknya, mesin pendingin itu sudah malfungsi dengan sendirinya. Menurut cerita hotel ini adalah peninggalan salah seorang petinggi di jajaran kabinet Suharto. Tarifnya Rp. 350ribu permalam. Namun itu bukanlah harga yang mahal setelah banyak pekerja sosial yang lalu lalang di Aceh pasca tsunami.

Menjelang tidur, sekitar pukul 10 malam saya masih menerawang. Membayangkan suasana perjalanan besok subuh ke Meulaboh lewat jalur pegunungan Singgah Mata yang terkenal itu. Salah satu nama jalan di Ba

Senin, 04 September 2017


WISATA ALAM SINGGAH MATA




 Gunung Singgah Mata merupakan sebuah gunung yang terletak di dua kabupaten yaitu Aceh Tengah dan Nagan Raya, menawarkan pesona alam berupa keindahan perbukitan serta pesona ekosistem Leuser.
Gunung Singgah Mata, Panorama Menawan Sebuah Gunung di Nagan Raya


WISATA
Jika kamu akan berlibur di Aceh, sudahkah kamu merencanakan tempat mana saja yang akan kamu kunjungi? Aceh menawarkan begitu banyak pesona wisata mulai wisata alam, kuliner, religi serta wisata bagi para pecinta petualang. Bila kamu seorang yang menyukai tantangan ekstrim, datanglah ke Gunung Singgah Mata yang berada di dua kabupaten sekaligus yaitu Nagan Raya dan Aceh Tengah.

Gunung Singgah Mata masih merupakan bagian dari ekosistem pegunungan Leuser yang dikenal sangat luas. Gunung ini setidaknya memiliki ketinggian mencapai 2.800 meter diatas permukaan laut. Salah satu daya tarik yang ditawarkan tempat wisata ini adalah pemandangan dari atas puncak yang begitu mempesona. Semburan kabut berwarna putih, serta udara dingin berpadu keindahan alam pepohonan hijau menjadi pemandangan yang sayang untuk dilewatkan.


Berbeda dengan gunung lainnya di Aceh, Gunung Singgah Mata ini terbilang unik. Di lereng-lereng gunung telah dilakukan pembukaan lahan guna dibangunnya jalan yang menghubungkan antara Nagan Raya-Aceh Tengah dan sebaliknya. Jarak yang harus ditempuh wisatawan untuk mencapai kaki gunung yang berada di Kecamatan Beutong sekitar 44 kilometer dengan perjalanan selama kurang lebih satu jam.

Mulanya wisatawan akan dihadapkan dengan kondisi jalan yang mulus dan diaspal dengan baik. Namun ketika tiba di Kecamatan Beutong, petualangan sebenarnya pun baru dimulai. Wisatawan dipaksa untuk melalui jalan yang cukup sempit, dengan kondisi jalan yang dipenuhi tikungan, tanjakan ekstrim dan jurang di salah satu sisinya. Pengunjung diharapkan untuk berhati-hati karena jalan di lereng Gunung Singgah Mata ini sering terjadi longsor.

Ketika melewati jalanan yang ekstrim ini, tetaplah pada konstentrasi tinggi karena lengah sedikit saja wisatawan bisa terperosok ke jurang yang dalam. Selain itu, masih banyak ditemui jalanan yang berlubang serta beberapa titik jalan yang rusak parah. Saat berada di kaki Gunung Singgah Mata udara pun mulai menurun drastis, tak jarang kabut yang tebalpun akan menghalangi jarak pandang.

Pesona Gunung Singgah Mata
Untuk mendaki Gunung Singgah Mata ini, wisatawan bisa menggunakan kendaraan bermotor seperti trail. Karena medan pendakian yang dipenuhi tanjakan, terkadang memaksa wisatawan untuk turun dari kendaraan dan berjalan menuntunnya. Disepanjang perjalanan, wisatawan akan disuguhkan dengan pemandangan alam berupa indahnya pepohonan hijau, deretan perbukitan serta pegunungan.

Gunung Singgah Mata memang merupakan bagian dari kawasan ekosistem Lueser yang dikenal memiliki keaneka ragaman flora fauna. Sehingga ketika wisatawan berkunjung ke tempat ini, terkadang masih bisa dijumpai berbagai satwa liar yang berkeliaran dengan bebas seperti tupai, rusa, babi, bahkan hewan buas seperti harimau. Namun biasanya, hewan-hewan ini tinggal didalam hutan dan sangat jarang menampakkan diri ke manusia sehingga cukup aman.


Seolah perjuangan wisatawan untuk mencapai puncak dari Gunung Singgah Mata terbayar tuntas ketika mencapai tempat tujuan. Di puncak pendakian, wisatawan akan disuguhkan dengan pemandangan alam luar biasa seperti hutan yang masih asri, pepohonan hijau, deretan perbukitan serta gelombang kabut tebal didepan mata. Udara yang semakin dingin menusuk tulang pun menjadi teman setia bagi para wisatawan.

Tak hanya menjadi tempat wisata saja, Gunung Singgah Mata juga memiliki kekayaan bumi berupa batu giok yang sering diburu oleh warga setempat. Tak jarang, ketika mendaki wisatawan akan berpapasan dan bertemu dengan warga sekitar yang menambang batu giok di gunung. Batu-batu giok ini kemudian diolah menjadi berbagai macam perhiasan serta cinderamata yang beberapa waktu lalu sempat populer di Indonesia.