4 Mei 2017 10:00 Diperbarui: 4 Mei 2017 10:00 916 0 9
Februari 2008. Dari Bireun, mestinya kami memutar ke jalur Pidie atau Saree untuk kembali ke kota Banda Aceh. Namun, kami mengubah rencana. Zulfikar yang menyertai kami, dengan mantap mengiyakan saat kami mengajak melewati jalur Takengon atau melintasi perbukitan dan hutan lebat Aceh Tengah. Bukan soal jalur baru ini yang buat kami sempat deg-degan tetap waktu keberangkatan kami seusai shalat subuh di Takengon.
Sebelumnya, kami menghabiskan waktu di Takengon. Kami mengunjungi pasar ikan dan sudut-sudut kota itu. Sebelum beranjak mencari penginapan kami mencari buah-buahan di Pasar Bawah dan mengamati beberapa bangunan khas peninggalan Belanda.
Kota dingin bersuhu 16 hingga 25 derajat itu, tertata apik. Beberapa bangunan tua dengan arsitektur lama masih bertahan. Dulu, kawasan ini disebut salah satu daerah kunci ekonomi Aceh, itulah sebabnya para meneer Belanda sangat menyayangi kota ini. Di zaman kolonial, jalur Bireun - Takengon ini disebut salah satu yang paling sibuk. Gajah adalah salah satu moda transportasi bahkan Gubernur VOC di Aceh pada saat itu beberapa kali melakukan perjalanan dengan mobilnya, lengkap dengan serdadu. Dari Takengon, kopi Gayo merambah Eropa.Saya terkenang beberapa foto antik dari kawasan ini dipamerkan di gedung Arsip di Banda Aceh, tentang gajah, kumis tebal yang gubernur, hingga para serdadu yang menenteng senjata.
Takengon juga terkenal karena ikan khasnya yang kami jumpai di salah satu pasar sentral Takengon. Berjejer, kecil di antara ikan-ikan laut, ikan kerapu, kakap, dan ikan tambak seperti bandeng, nila dan ikan karang lainnya. Setelah puas mengelilingi pasar, kawan saya yang asal benua Kanguru mengajak memangkas rambut di salah satu sudut kota. Tepat di jalan menanjak sebelum berbelok ke kanan menuju jalur kanan danau.
"Seriously?"kataku. "Yeah, why? Come on,"ucapnya riang.
Di saat duduk mematung di atas kursi pangkas itulah, aroma kopi bubuk giling menyeruak di ruangan pangkas dan membuat kami hanya bisa saling memandang dan melenguh. Duh, enaknya. "Itu dia pak. Daya tarik Aceh Tengah adalah kopi!"celetuk Zulfikar.
****
Bertiga, kami bergerak ke daerah ketinggian di sisi danau. Warga Takengon yang kami tanyai, menyodorkan nama hotel Renggali. Letaknya di bagian timur danau. Tenang dan jauh dari pemukiman warga. Untuk menjangkaunya kami mesti melewati jembatan di tepi kota, jembatan yang di sekitarnya dijejali keramba ikan. Kamar kami dilengkapi jendela kaca yang lebar, dimana kami bisa menatap kecipak air danau yang menjilati batang pohon pinus tua. Membiarkan gerai jendela tetap tergulung, melihat wanita-wanita yang membilas cucian dan beberapa pemancing ikan terayun di atas sampan kecilnya. Dari titik ini juga terlihat liukan jalan masuk ke Takengon bagai ular dari arah utara.
Hotel Renggali sangat strategis, asri dan antik. Tak perlu onkan ac karena suhu sudah sekitar malam itu tidak sampai 25 derajat. Nampaknya, mesin pendingin itu sudah malfungsi dengan sendirinya. Menurut cerita hotel ini adalah peninggalan salah seorang petinggi di jajaran kabinet Suharto. Tarifnya Rp. 350ribu permalam. Namun itu bukanlah harga yang mahal setelah banyak pekerja sosial yang lalu lalang di Aceh pasca tsunami.
Menjelang tidur, sekitar pukul 10 malam saya masih menerawang. Membayangkan suasana perjalanan besok subuh ke Meulaboh lewat jalur pegunungan Singgah Mata yang terkenal itu. Salah satu nama jalan di Ba
Tidak ada komentar:
Posting Komentar